Wimbledon di Dubai Sports Channel

2009 Juli 3
by NSuwarno
20090703-Bahrain-1220

channel "Dubai Sport

Sebagai penggemar tennis, nonton Wimbledon adalah wajib, meskipun cuma lewat siaran langsung di TV. Untuk mereka yang tinggal di Indonesia, sepanjang pengetahuan saya kadang-kadang RCTI atau SCTV memberikan siaran langsung (kurang tahu tahun ini bagaimana, karena saya tidak tinggal di Indonesia) tapi kalo channel lokal tidak memberikan fasilitas itu, bagi mereka yang berlangganan televisi kabel bisa mengikutinya melalui Star Sport. Komentatornya tentu saja tidak asing; paling tidak dalam bahasa Inggris. 

Beruntung saya tinggal di Apartmen di Bahrain ini yang di lengkapi dengan provider TV Internasional, sehingga tentunya menyiarkan acara-acara internasional, termasuk juga turnamen tennis Wimbledon ini. Jadilah sayapun bisa nonton Wimbledon dari rumah. 

Lalu apa yang aneh dong? …Tidak ada yang aneh sebenarnya; hanya saja, karena pemancar TV satu-satunya (yang diterima oleh provider langganan apartemen saya) yang menyiarkan siaran langsung Wimbledon ini adalah “Dubai Sports”, maka saya pun cuma bisa menonton ini; lengkap dengan komentator bahasa Arab!

mn-090703-2  mn-090703-3  

Ini dia yang lucu nih…. komentator ini sangat berisik, kayaknya dia tidak tau kapan harus diam dan menonton, seperti layaknya komentator bahasa inggris, lebih parah lagi, dalam bahasa Arab (terus terang bahasa Arab bukan bahasa yang enak didengar). Biasanya saya mengecilkan suara saja sehingga seperti cuma menonton film bisu. Tapi karena pertandingan hari ini adalah semifinal putra, antara Andy Murray dari Inggris dan Andy Roddick yang orang Amerka, dan teman memonton saya adalah orang Inggris, rasanya kurang seru kalo cuma nonton film bisu saja, jadilah kami pun nonton dan dilengkapi dengan suara dan komentator yang disediakan oleh Channel Dubai sport….

 

wimbledon melalui TV

wimbledon melalui TV

Meskipun saya tidak mengerti bahasa Arab sama sekali, sangat jelas, komentator ini berpihak, dan saya tidak bisa menahan tawa ketika komentator yang berpihak kepada Andy Murray terlalu bersemangat ketika berhasil melakukan pengembalian bola yang luar biasa kepada Andy Roddick, yang serta merta dia berteriak “Allahu Akbar….” – Allah Maha Besar –  

 

He he he… fanatik sih boleh saja, tapi rasanya orang Indonesia yang fanatik badminton, tidak pernah berteriak seperti itu pada saat pemainnya menang di kancah internasional…..

Akhir cerita… Andy Murray yang di jagokannya itu… k a l a h….

Apakah Saya Kehilangan Kebebasan Saya?

2009 Juli 1
by NSuwarno

Hampir empat tahun yang lalu saya membuat keputusan sendiri, bahwa saya akan berangkat ekpatriasi ke Timur Tengah, dengan membawa sebuah kopor, sebuah ransel besar berukuran 60 liter, sebuah laptop, kamera dan tiket pesawat “terbuka” ( open tiket – artinya dengan tanggal pulang yang tidak ditentukan sebelumnya - bukan tiket pulang-pergi yang biasa). Seperti saya tulis pada awal blog saya ini, saya tidak tau kapan saya pulang. Bisa seminggu kemudian atau…. entah kapan, tergantung ketahanan saya dan kekuatan saya sendiri untuk hidup di rantau.

Ketika itu semua keputusan saya ambil sendiri, tidak ada orang tua atau suami tempat bertanya… tidak ada partner tempat berdiskusi untuk keputusan yang kemudian mungkin saja merubah jalan hidup saya. Waktu itu pertanyaan teman-teman saya adalah, “….ngapain sih ke Arab. Apa cowok-cowok Indonesia kurang untuk kamu sampe harus cari orang Arab…?”

Pertanyaan tersebut memang cuma sebuah kelakar saja, tapi bukannya kelakar itu setengah serius? Saya diam saja, mau di jawab apa? Apapun jawabannya, mereka tidak akan ambil perduli, dan saya pun tidak perduli. Saya sudah kebal terhadap lelucon seperti ini. Dimulai dengan pertanyaan: “Kapan nih menikah…?” – pertanyaan klasik untuk anak perempuan menginjak usia 20 an….  atau yang lebih menyakitkan lagi adalah pernyataan yang setengah menghakimi: “Kamu sangat picky dalam memilih jodoh kamu… “. Saya tetap diam saja, dan sejalan dengan waktu, pertanyaan kemudian berubah, “mengapa kamu tidak menikah…?”

Mereka semua tidak tau bahwa memilih jodoh itu bukan seperti menerima kucing dalam karung. Ibu-ibu yang jahat itu juga memilih sayurnya yang mereka beli di tukang sayur dengan sangat hati-hati untuk dimakan bersama keluarganya… ; kenapa saya tidak boleh memilih jodoh saya dengan hati-hati juga? Jawaban saya “mengapa saya tidak menikah” adalah, karena saya pikir semua orang punya alasan sendiri-sendiri dengan jodohnya…. Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas yang bertubi-tubi saya terima pada saat saya umur 30an memang membuat saya depress.

Sekarang, 40 something, saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Saya menikmati kebebasan saya, tidak ada anak-anak yang mungkin membuat saya pusing dan suami yang sok otoriter mengatur diri saya. Saya bebas memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya sendiri, dan saya bertanggung jawab atas diri sendiri. Dan saya juga tidak pernah berpikir lagi bahwa saya akan pernah bertunangan dan kemudian menikah…. hare ginie! apa lagi saya memasuki periode ke dua dari hidup saya… masa menopause….

Percaya atau tidak, saya harus mengakui bahwa…. “manusia boleh berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan….” Pada saat saya sudah tidak berpikir akan pernah menikah… tau-tau teman saya, dengan siapa saya sering ngobrol dan jalan-jalan bareng di tengah ke sendirian di rantau meminta tangan saya…. Mungkin “proposal” Keith (demikian nama teman jalan bareng) ini bukan yang pertama saya dengar, tapi ini proposal pertama yang pernah saya terima!

Sebagai perempuan setengah baya, yang terbiasa berpikir logis dan tidak terlalu romantis; saya sangat realistis untuk tidak mengharapkan apa-apa sesudah saya menerima lamaran dia. Persiapan pernikahan… ah rasanya kurang layak untuk berpikir terlalu muluk pada umur segini, kami tidak muda lagi… dan inipun bukan pernikahan pertama untuk Keith; kami juga sangat jauh dari keluarga kami masing-masing…. jadi tidak perlu terlalu diresmikan… dan itu adalah pemikiran saya. Saya benar-benar tersentuh ketika dia mengatakan: “…lets buy an engagement ring…”

mn-090701-2

Saya tidak bisa berpikir lagi dan harus menjawab apa dari kata-katanya tersebut… tapi mungkin ada benarnya apa yang dikatakannya sambil berkelakar: “…. women are not supposed to think..,” Saya harus berhenti berpikir dan bertingkah lakulah seperti perempuan “normal” dan membiarkan dia berpikir….

Sebenarnya, saya tetap ingin seperti saya yang dulu, sebelum saya bertemu dengan Keith. Saya tidak ingin kehilangan kebebasan saya sebagai perempuan mandiri, “independent Annie,” begitu istilah Keith kalau saya mulai menunjukkan kemandirian saya.

Satu hal yang saya tau sekarang adalah bahwa saya tidak bisa memutuskan semuanya untuk diri saya saja. Saya harus berpikir untuk kami berdua; kami akan mendiskuskannya bersama. I am not traveling solo anymore….

Naik Mobil di Inggris Selatan-2

2009 Juni 30
by NSuwarno

Kota Bath memang menarik, tapi ternyata ada banyak kota dan desa kecil yang cantik dan menarik seperti Bath ini. Enaknya naik mobil adalah berkemampuan untuk melalui dan melihat semua itu. Dibawah ini peta perjalanan saya:

Dan kami mengunjungi semua tempat itu tanpa sama sekali masuk ke metropolitan London yang terkenal itu. Partner perjalanan saya tidak ingin mengunjungi kota London, karena dia pusing dengan kota yang “ruwet” itu…. hi hi hi, saya jadi membandingkan dengan Jakarta yang berpenduduk 12 juta orang itu.

Sebagai “Gadis Kota,” London bukan kota yang menakutkan, tapi bukan berarti pedesaan tidak menarik. Dengan Bath sebagai “base camp” kami, kami mengunjungi kota kota kecil disekitar Bath seperti desa Badminton,  Castle Combe, Lacock, Avebury dan tentunya Ngarai Cheddar. Kami juga berkesempatan untuk menghabiskan seharian di kota Bristol, kota terbesar ke tiga di Inggris sesudah London.

Badminton.

 

penunjuk jalan ke desa Badminton

penunjuk jalan ke desa Badminton

Namanya memang terkenal di Indonesia, dan di seluruh dunia karena disinilah permainan olahraga Badminton diresmikan pada tahun 1873; atau tepatnya di Badminton House, di kawasan Gloucestershire. Tapi jangan harap tempat ini lalu menjadi modern dan dilengkapi dengan fasilitas gedung olahraga Badminton…. sama sekali tidak. Malah menurut pendapat saya, tempat ini mengecewakan. Cuma ‘hal’ kecil di desa Badminton, dengan kapasitas dua lapangan badminton saja, dan tidak ada bangku untuk penonton sama sekali.

Bangunan perumahannya, meskipun unik tapi secara arsitektur, ini sangat kuno…. dengan atap alang-alang yang sama sekali jauh dari bayangan Inggris yang merupakan negara industri. Rupanya mereka juga masih punya desa-desa “udik” seperti ini. Terus terang ini mengingatkan saya pada Kampung Naga di Jawa Barat….

arsitektur rumah tinggal di desa badminton

arsitektur rumah tinggal di desa badminton

 

 

Castle Combe.

Desa cantik lain adalah Castle Combe. Populasinya, cuma 350 orang saja… tapi pemandangannya yang diciptakan tidak betul betul luar biasa, tetap asri dan pemandangannya tetap seperti ini sejak jaman abad pertengahan. Disini juga film Doctor Dolittle versi tahun 1967 dibuat, dan pemandangan seperti difilm itu, sampai sekarang masih saja sama…. tanpa menjadi semakin kumuh atau semakin modern.

 

Desa Castle Combe

Desa Castle Combe

Bagian desa cantik ini juga dilengkapi oleh hotel, Manor House Hotel, yang termasuk dalam rantai hotel mewah,  Small Luxury Hotel of the World, dan dilengkapi dengan fasilitas lapangan golf nya. Jangan tanya berapa tarifnya untuk menginap atau bermain golf disitu. Kami hanya mampu untuk berpose di depan hotelnya dan minum teh saja disitu; tidak cukup untuk membayar makan siang.

 

Lecock.

Desa Lacock tidak secantik atau se istimewa seperti Castle Combe, tapi dia tetap masuk dalam daftar obyek turisme Inggris, karena Lacock Abbey yang kondisi ke asliannya tetap dipertahankan oleh institusi National Trust, organisasi swasta yang mengurus konservasi dan mempertahankan kehijauan alam Inggris. Disini juga ada museum “Fox Talbot”. Kurang terkenal mungkin, William Henry Fox Talbot adalah orang pertama yang menemukan teknologi photography. dan di desa inilah dia pertama kali merekam gambar tetesan salju.mn-090630-5

Lacock Abbey ini masih tetap sama seperti ketika William Henry Fox Talbot ini menyempurnakan proses calotype yang menjadi cikal bakal teknologi photography modern.

Avebury

Desa Avebury menjadi rumah dari peninggalan purba Inggris dan merupakan versi primitif dari yang lebih terkenal – Stonehenge  dengan daya cakup yang sangat luas, jadi sangat sulit untuk melihat semuanya sekaligus, disamping mencernanya pun….. saya tidak bisa menggambarkannya dalam bentuk kata-kata….

 

monumen batu di Avebury

monumen batu di Avebury

Kayaknya komentar saya untuk peninggalan tua Avebury sama saja seperti komentar yang saya tulis di posting saya tentang Stonehenge.

Ngarai Cheddar

2009 Juni 29
by NSuwarno

Pernah dengar nama Cheddar? para penggemar keju di Indonesia pasti pernah dengar nama ini, karena keju jenis Cheddar buatan Kraft sangat populer di Indonesia. Tapi siapa yang tau kalo nama Cheddar ini berasal dari desa Cheddar di Inggris yang terletak di sekitar Cheddar Gorge di Inggris. Lalu apa istimewanya dari desa Cheddar ini, dan apa sih Gorge itu?

Gorge itu sama dengan Canyon dalam bahasa Inggris Amerika dan artinya adalah lembah, yang terletak di antara dua tebing yang curam, biasanya ini terjadi karena erosi sungai dan proses ini terbentuk selama ber ratus-ratus tahun lamanya sesudah terjadi proses pengerasan dan sebagainya.

Apa yang istimewa dari Ngarai Cheddar yang terbentuk sekitar 9000 tahun yang lalu? Ditemukan baru sekitar tahun 1903 dan kemudian menjadi kawasan wisata Inggris dan bisa dikunjungi dalam sehari saja. Sayangnya untuk mencapai tempat ini agak sulit. Apabila kita datang dari London, maka lama perjalanannya adalah kira-kira 2,5 jam bermobil atau mungkin sama dengan seperti dari Jakarta ke Bandung lewat jalan tol. Dari kota Bath mungkin lebih dekat, kira-kira cuma 30km saja.

Jalanannya pun sempit (lihat foto-foto pada English Country Side) dan berkelok-kelok dan mengingatkan saya pada jalur Jakarta -Bandung melalui Puncak Pass, yang sepanjang jalan tersebut adalah kebun teh. Bedanya mungkin adalah pada suatu kelokan tiba-tiba pemandangannya pun berubah.

Peta kawasan Cheddar Gorge

Peta kawasan Cheddar Gorge

“Cheddar Gorge ini unik…” kata partner perjalanan saya, “cuma satu-satunya di Inggris…” dan ketika mobil kami memasuki kelokan jalan berikut, tiba-tiba saja pemandangan landsekapnya berubah menjadi sangat dramatis… terus terang, yang ini tidak ada disepanjang jalan puncak (di Jawa Barat). Kami tiba-tiba saja berada di tengah jurang dengan kedua tebing batu tinggi di kedua sisi jalanan kami, yang membuat jalanan menjadi abu-abu dan lebih gelap, karena bayangan tebing yang menghalangi sinar matahari.

Walaupun sudah tengah hari, karena kami datang pada musim semi, dan belum musim turis, maka tempat ini masih sangat sepi, bersama kami cuma ada satu mobil lain yang juga berhenti di tempat parkir yang sudah disediakan.

“Pada musim panas, tempat parkir ini sangat penuh… pada jam dua siang seperti ini akan sangat sulit mendapatkan tempat parkir….” begitu penjelasan partner saya yang kebetulan berasal dari kawasan ini. Memang harus di akui bahwa di tepi jalan dua arah yang masing-masing cuma satu jalur ini, disediakan juga parkir sejajar dan di tempat-tempat terbuka (yang cuma sedikit itu) disediakan tempat parkir untuk bus besar. Rupanya musim panas tempat ini sangat popular dengan turis.

Lalu apa yang menarik dari Cheddar Gorge ini sampai orang datang berbondong-bondong ke tempat ini?

  1. Gua-gua yang terbentuk ribuan tahun itu merupakan obyek wisata edukatif bagi anak-anak sekolah untuk berkenalan dengan geologi, disamping kemasan tourismenya yang memberikan informasi ringan dilengkapi penjelasan audionya yang bisa kita pinjam sebelum memasuki gua-gua tersebut. Konon disalah satu gua ini ditemukan Manusia Purba Inggris.
  2. Untuk mereka yang hobby panjat tebing, inilah tempatnya…. dan jangan salah walaupun sistem keamanannya sangat diawasi, tapi musibah panjat tebing sering terjadi… mungkin karena medannya sangat sulit.
  3. Apabila Panjat Tebing terlalu sulit, maka alternatif lainnya adalah hiking yang tidak kalah menariknya
  4. Desa Cheddar yang berada tidak jauh dari ngarai ini memiliki hasil pertanian yang terkenal keseluruh dunia, yang menjadi ciri khasnya… keju jenis cheddar yang lezat. dan ‘warung-warung’ sepanjang jurang ini menjual keju ini sebagai souvenir utamanya….
  5. Menara Pemantau dengan 274 anak tangganya untuk melihat kawasan ini dari ketinggian tertentu

Sayang kami datang pada saat off season, sehingga obyek wisata ini, baik gua maupun toko-toko souvenirnya tutup semua. Tapi lumayan, saya berhasil mengabadikan sedikit foto-foto dari kawasan ini, meskipun saya harus melawan udara dinginnya…(lihat foto-foto di photojournal saya)

Apa yang bisa saya pelajari dari Cheddar Gorge ini?

  • Bagaimana pandainya orang Inggris mengemas industri pariwisatanya dengan menyisipkan informasi yang berbau pendidikan, sehingga awam menjadi lebih mengetahui tentang geologi, arkeologi dan alamnya setelah mengunjungi tempat ini selain menikmati pemandangannya.
  • Membangun museum pra sejarah di dekat itu untuk mengabadikan penemuan manusia purbanya dan kembali lagi pada masalah edukatif tadi, disamping juga memberikan pemasukan tambahan untuk pemeliharaan tempat tersebut.
  • Walaupun dilengkapi dengan rumah makan dan “warung kopi” tapi jumlahnya tidak sampai merusak pemandangannya, sehingga keasriannya masih terjaga, tanpa terlalu merusak lingkungan.
  • Walaupun lokasinya sulit, tapi tepat di ngarai itu tidak ada sama sekali tempat penginapan, rupanya sistem perencanaan lingkungan yang baik, yang tidak mengijinkan dibangun penginapan kecuali di desa terdekat, sehingga ini pun membantu ekonomi penduduk setempat dengan industri Bed & Breakfast mereka.

Bath

2009 Juni 20
by NSuwarno

mn-090613-1Siapa yang mengira bahwa negara Inggris yang kita kenal pernah di jajah? Saya tidak pernah dengar tentang ini sampai saya datang ke kota Bath, di Barat Inggris. Travel partner saya yang pernah tinggal di Bath untuk beberapa tahun lamanya mengetahui persis garis besar sejarah kota Bath.

Ditemukan dan dibangun oleh bangsa Romawi pada jaman penjajahan Romawi kuno kurang lebih tahun 43 sesudah masehi. Mereka membangun pusat pemandian air panas, satu-satunya mata air panas (hot spring) yang ada di Inggris. Mereka begitu terkagum-kagumnya pada sumber mata air panas ini sehingga kemudian membangun sistem infrastruktur dan pusat pemandian untuk kemewahan hidup serta pemujaan pada dewa air – Sulis Minerva – dan ini juga sebabnya nama kota ini Bath, yang artinya mandi dalam bahasa Inggris… (seperti kita semua mengetahuinya….). Gambar dibawah ini adalah rekaan dari seperti apa pusat pemandian itu dibangun pada jaman kejayaan Romawi.

map of old bath

peta kota Bath Tua

Letak kota Bath sendiri berada di lembah Avon dan merupakan titik terendah daerah itu, sehingga apabila kita datang dengan mobil, maka jalan menuju kota ini adalah menurun. Partner perjalanan saya yang kebetulan pernah tinggal di Bath selama beberapa tahun mengatakan, bahwa musim panas kota ini “sangat” panas dan lembab. Tapi karena kami datang pada musim semi, maka “panas dan lembab” ini tak ada pengaruhnya…. saya kemudian membayangkan dengan panas dan lembab yang sehari-hari kita alami di Jakarta… seperti apa kira-kira ya?

Ada efek samping yang lain dari letak kota yang rendah dibandingkan dengan daerah sekitarnya, yaitu pemandangan yang dihasilkannya, kemanapun kita memandang apa bila kita berada di pusat kota, yang mana juga merupakan bagian terrendah dari kota itu, maka latar belakang pemandanganya adalah bagian kota yang lebih tinggi.

mn-090609-3

The Abbey Hotel

Kami menginap di Abbey Hotel, hotel berbintang tiga yang terletak persis ditengah kota Bath dan jaraknya cuma 2 menit jalan kaki dengan pusat pemandian kuno dan juga merupakan pusat kotanya, dekat dengan Highstreet (ini istilah khusus di Inggris untuk jalan utamanya yang juga pusat komersial dari kota itu).

Sebenarnya kota Bath ini kota yang “compact” semua bisa dicapai dengan berjalan kaki saja dalam satu hari. Foto-fotonya bisa diliat di travel photo saya. Dibangun pertama kali oleh bangsa Romawi, mengalami masa kejayaan pembangunannya pada masa Georgian, abad ke 18, yang mana bangunannya masih terlestarikan seperti sekarang. Saya kurang tau apa ini karena para perencana kotanya sangat ketat sehingga bangunan2 dari sejak Georgian sampai sekarang masih terlestarikan dengan baik atau karena hal yang lain.

Kelebihan lain dari Bath adalah bahwa mereka pandai mengemas segala hal yang sederhana jadi istimewa, seperti misalnya Miss Lunney’s Kitchen, yang meng claim sebagai restoran pertama di Bath dan dengan resep Bun nya yang bertahan sejak ratusan tahun yang lalu…. masa iya sih? Atau misalnya Jane Austen’s house…. semuanya biasa saja, tidak ada yang istimewa dari rumah ini, bedanya Jane Austen adalah novelis legendaris abad ke 18 dan pernah tinggal di rumah itu untuk beberpa tahun lamanya.

Pariwisata Bath

City hotel seperti Best Western Abbey Hotel tempat kami menginap itu adalah cuma hotel berbintang 3 yang lokasinya di pusat kota, sehingga para pebisnis yang datang ke kota tersebut tinggal berjalan kaki saja untuk melakukan bisnisnya di kota tersebut. Tidak ada keharusan mereka untuk mempromosikan kota tersebut, tapi toh mereka semua siap membantu untuk menerima tamu para wisatawan asing seperti saya ini. Mereka juga siap dengan peta yang sangat memudahkan bagi orang asing yang baru pertama kali datang ke kota ini berorientasi tanpa menjadi tersesat. Al hasil, dengan penduduk yang kurang dari seratus ribu, dan kota yang sangat compact, wisatawan asing yang datang ke Bath dalam satu tahun bisa mencapai 3 juta orang….

Bandingkan dengan kota Bogor misalnya… turis asing yang datang mungkin tumpahan dari Jakarta saja….

Seperti biasa, foto-foto bisa dilihat pada Photoblog saya atau photojournal saya yang isinya adalah apa yang saya lihat selama dalam perjalanan keliling kota Bath