Dari banyak blog yang saya baca tentang kesempatan bekerja di luar negeri, saya memperoleh gambaran kasar, seolah-olah kesempatan kerja hanya di bidang oil & gas saja… apalagi kalau kita bicara tentang kesempatan bekerja di Tanah Arab. Menurut pengalaman saya itu sama sekali tidak benar….

Memang negara-negara arabia itu adalah negara minyak, dan sektor industri utama mereka adalah oil & gas. Tapi untuk menjalankan negaranya, mereka membutuhkan segala macam jenis industri, dari mulai oil & gas (tentunya) sampai dengan sales person. Dengan kata lain, lapangan pekerjaan yang ada di Arabia ini ada segala macam… dari yang biasa kita dengar, yaitu pembantu dan buruh kasar, juru rawat (di rumah sakit), sampai para profesional yang bekerja di industri yang saya sebutkan diatas. Lalu apa lapangan pekerjaan yang lain? Yang jelas mereka juga membutuhkan professional untuk bekerja di sektor industri konstruksi untuk membangun negaranya, bukan cuma kuli bangunan, tapi juga para sarjana teknis sipil, arsitek, dan segala macam insinyur yang tersangkut. Mereka juga membutuhkan orang-orang yang mengoperasikan bangunan-bangunan itu pada saat bangunan tersebut sudah jadi, seperti building manajemen, real estate agent, dll. Industri lain pun juga dibutuhkan seperti perhotelan, komersial dll. Jadi general skilled person seperti sales person, sekretaris, akuntan, lawyer, IT, administrational work, dll. adalah kebutuhan dasar yang dibutuhkan disegala sektor industri. Kuncinya tentu adalah bahasa Inggris.

Orang Philipina, India, dan negara Subcontinent Asia lainnya serta dari negara-negara arab sekitar sangat menguasai lapangan pekerjaan ini. Indonesia yang memiliki jumlah pengangguran sangat banyak; selayaknya dapat mengisi kekosongan ini…. tak hanya jadi supplier pembantu terbesar saja.

Pertanyaannya kemudian adalah berapa standard gaji yang harus di mintakan untuk tiap-tiap industri?

Saya baru saja kembali dari tanah air, seperti biasa, masalah klise yang teramati dalam perjalanan jalur Middle East - Jakarta via Singapore (terserah naik penerbangan apapun….) adalah perjalanan dengan pembantu asal Indonesia, baik dari Mid East atau dari Jakarta….

Ada banyak perasaan campur aduk mengamati mereka itu: jengkel, kesal, malu dan kasihan semua campur aduk….

Jengkel, karekan kelakuan mereka yang senangnya bergerombol dan punya kecenderungan ribut dan sulit diberi tahu…, Jengkel dan kesal karena masalah klasikm, yaitu tidak mendengarkan dan tanggap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, hanya karena kesibukan mereka satu sama lain yang menjadikan mereka sendiri tidak taat aturan setempat yang berkalu. Malu karena mereka keributan yang ditimbulkan oleh mereka, layaknya mereka itu tak beradab… belum lagi. Kasihan, karena mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi pada diri mereka setibanya di tanah air…

Bayangkan, perjalanan jauh mereka yang di lampaui entah berapa hari di perjalanan, sebelum tiba di Jakarta… untuk kemudian di peras oleh petugas imigrasi di Bandara…. belum lagi harus menunggu berjam-jam di terminal khusus kedatangan untuk pada TKI yang pulang pertama kali sesudah lebih dari satu tahun meninggalkan keluarganya…. Jangan lupa, perjalanan mereka tidak berakhir di Jakarta, tetapi masih berlanjut dengan penerbangan lokal ke Jawa Tengah/Timur, Lampung dll.

Cerita diatas adalah cerita para TKW yang pulang ke tanah air. Cerita keberangkatan TKI lain lagi…. Foto dibawah ini adalah bagaimana mereka antre untuk check-in dengan pesawat yang digunakannya…. Budaya yang harus antre bergiliran rupanya belum benar-benar dimengerti oleh mereka… akibatnya untuk antri saya masih harus di beritahu oleh “chaperon” mereka ikut di jalur antrean yang mana…

TKW-antre

Gambar di atas menunjukkan bagai mana mereka antre untuk check-in…. pertanyaannya, beginikan posisi antre? dengan ber-jongkok? masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak saya, dan saya tak habis pikir…. Padahal ini baru langkah pertama sebelum benar-benar ada di Luar Indonesia….

Di dalam pesawat ceritanya lain lagi. Memang mereka kecenderungannya jinak… tak berani berbuat macam-macam…. atau begitulah kira-kira pada saat mereka duduk di dalam pesawat…. Cerita jadi lain pada saat mereka mulai menggunakan kamar kecil…. belum lagi apabila mereka mengalami mabuk udara…. (muntah saja di lantai pesawat, padahal di sediakan kantung untuk menanggulangi ke “jorokan” itu)

Rasanya harus ada yang mengajarkan mereka bertata krama di “dunia internasional”. Dari mulai Check-in di Bandara Internasional Indonesia, sampai dengan tiba “di ujung sana”: didalam pesawat terbang, transit di bandara negara asing, dll.

Seperti inikan budaya orang Indonesia yang “sangat berbeda” dengan peradaban dunia yang luar? Atau beginikah sistem pendidikan Indonesia… jauh tertinggal dengan peradaban dunia yang lain? atau kita memang tidak perlu mengenal peradaban dunia yang lain… tetap saja berlaku “tradisional,” karena untuk menyatukan banyak tradisi lokal saja sudah pusing apa lagi mengenalkan tata krama asing…. dan membiarkan orang Indonesia  jago kandang…

Menurut pendapat saya, meskipun mereka itu “cuma jadi pembantu” dinegeri orang… mereka tetap melakukan perjalanan internasional, baik dari kampung mereka ke negeri seberang atau dalam rangka tugas mereka di negeri seberang, karena majikan mereka mungkin saja membawa mereka dalam perjalanan luarnegeri mereka…. Dan apabila mereka bertata krama dan berperilaku yang “standard internasional” maka kemungkinan mereka di “abuse” oleh majikannya pun menjadi berkurang….

Salah satu cara mengatasi pengangguran di Indonesia yang mencapai lebih dari 15% itu adalah dengan mengirimkan tenaga kerjanya ke Luar Negeri, menjadi TKI dan TKW adalah salah satu caranya…. Mau tidak mau, mereka sebenarnya adalah pahlawan Indonesia di Luar Negeri.  Sayangnya pada saat mereka pulang ke Indonesia, perlakuan terhadap mereka adalah sangat tidak adil….

Diluar itu semua kalau kita mau melihat mereka dari sisi yang lain, sebenarnya nasib mereka adalah buah simalakama… pulang ke Indonesia di siksa, dan hidup mereka di rantaupun menjadi “siksaan” untuk mereka dan orang-orang yang terlibat…. Pertanyaannya adalah mengapa bisa begitu? Ada banyak faktor:

  1. Kurangnya persiapan dari Indonesia untuk “pengenalan-pertama” mereka di luar negeri sering kali membuat mereka pun menjadi frustrasi dan akibatnya mereka melakukan kesalahan dan menyulitkan banyak orang, dari mulai agennya, orang disekitarnya, sampai mereka sendiri.
  2. Cultural Shock, mereka yang bekerja sebagai TKI dan TKW adalah mereka yang datang dari kampung dan tidak pernah ter expose oleh budaya lain… dan sekali keluar dari tempurung, langsung berbeda sama sekali… tak pelak lagi mereka tidak cuma bingung, tapi juga shock; dari mulai kebiasaan sehari-hari, adat istiadat sampai masalah yang lain-lain
  3. Masalah Pendidikan. Definisi TKI/TKW ini bisa banyak artinya, tapi pada umumnya adalah tenaga kerja kasar, umumnya mereka cuma menjadi buruh, baik itu kuli bangunan, perkebunan ataupun pembantu…. lebih baik dari ini adalah mereka yang mengalami sekolahan sedikit. Tapi yang paling menyedihkan nasibnya tentunya adalah yang kurang pendidikan, mereka maksimum cuma sampai SMP saja, tapi cukup berani untuk bekerja di Luar Negeri.
  4. Masalah Bahasa. Harus di akui bahwa pengertian terhadap bahasa asing, terutama bahasa Inggris adalah sangat penting…. yang menjadi aneh untuk saya adalah bagaimana bisa Indonesia mengirimkan TKI/TKWnya tanpa pengertian terhadap bahasa Inggris. Memang pada saat sampai di tujuan (di arab misalnya) lulusan madrasah itu mungkin “bisa” survive dengan majikannya, karena majikannya orang Arab, tapi bagaimana selama perjalanan menuju Arab sana? Bagaimana interaksi mereka di luar rumah majikannya?

Kelihatannya masalah tersebut tak banyak, tapi itu semua masalah besar yang kalau di rinci secara detail dapat membuahkan bahan tertawaan, memalukan dan bahkan cerita sedih.

Akibat terbesar dari kelemahan tersebut diatas, disamping membuahkan cerita sedih tentunya juga berpengaruh kepada harga jual buruh indonesia, di mata international tenaga kerja indonesia termasuk tenaga kerja paling murah di dunia….

Pada blog saya terdahulu, saya bercerita tentang penyambutan gaya Middle East yang jauh berbeda dengan gaya Singapore atau gaya Indonesia. Ini semua kan kalau berjalan dengan lancar. Lalu bagaimana apa bila terjadi kesalahan teknis, dan penjemputan tidak terjadi…. apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti ini? Berikut ini saran saya kalau terjadi kesalahan teknis:

  • Tukarkan uang yang sekitar $200 sampai $300.- itu di airpor dengan uang lokal, yaitu Qatar Riyal. Dan ini dihargai sekitar QAR 360,- untuk setiap $100.
  • Uang ini lebih dari cukup untuk membayar taksi dari airport ke tempat tujuan (ada surcharge untuk airport taksi keluar dari airport sebesar QAR 20.- dan lalu meter taksi berputar setiap 100 m seperti layaknya di Jakarta.
  • Tindakan pertama tentunya adalah menelpon ke “contact person” yang menghubungi kita melalui email. Apabila sampai dia tidak mencantumkan nomor teleponnya yang bisa dihubungi, maka kita harus menanyakan nomor teleponnya sebelum  berangkat meninggalkan Jakarta. Pastikan bahwa kita mendapatkan nomor kantor dan nomor telpon sel nya. (untuk nomor mobile, dimulai dengan angka 5 atau 6 dan untuk nomor PSTN dimulai dengan angka 4)
  • Tindakan ke dua tentunya adalah booking hotel dari airport. Di doha airport, sesudah baggage check dan keluar, ada deretan counter hotel-hotel bintang 5 yang menerima bookingan dari mereka yang baru tiba di Doha. sekedar untuk informasi saja, uang $300 hanya cukup untuk menginap di hotel bintang 4 selama semalam saja. Jadi pastikan bahwa kita berhasil menghubungi kantor dalam waktu kurang dari semalam. sehingga tidak perlu booking hotel sama sekali. Alternatif lain tentunya adalah membooking hotel tersebut dengan credit card yang dibawa dari Jakarta.

Tapi sebenarnya kita tak usah terlalu ketakutan dengan “kesalahan teknis” seperti ini, karena rasanya apabila pegawai baru datang, semua system siap dengan penerimaan ini semua. Termasuk diantaranya adalah alokasi komputer untuk bekerja. Artinya masalah penjemputan dari airport adalah hal umum dan rutin.

Pada posting saya yang lain, saya cerita tentang Persiapan Sebelum Berangkat, yaitu tentang apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat meninggalkan Indonesia untuk menetap dan bekerja di manapun itu minimal selama satu tahun. Persiapan mental, fisik dan material ini perlu, karena kita kan pindah ketempat lain untuk waktu yang cukup lama; tak cuma sebulan dua bulan, tapi minimal lebih dari 6 bulan.

Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang di harapkan penerimaan di ujung sebelah sana. Untuk mereka yang baru pertama kali ke luar negeri sendirian, pasti ada rasa kuatir… seperti apakah di negara ‘antah berantah’ itu? Apa yang harus saya lakukan pertama kali pada saat saya mendarat nanti? Harus kemana ? ada Custom Check yang harus di lakukan dll. Apalagi kita akan bekerja di negara tsb. bukan kunjungan wisata.

Seorang teman yang akan datang dan bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sangat anxious menanti keberangkatannya.  Saya bisa mengerti sepenuhnya tentang ini; separuhnya dia pasti agak kuatir meninggalkan keluarga dan ketakutan kalau ada rasa kangen dan lain-lain, yang membuatnya ingin menunda keberangkatannya. Separuhnya lagi, ada ke kuatiran lain tentang penerimaannya di ”seberang sana”. Dalam tulisan saya terdahulu tentang Arab Hospitality sebenarnya sudah menjelaskan semua tentang pengalaman ”mobilisasi” saya dari Jakarta ke Doha. Tapi tentunya itu lebih dari 2 tahun yang lalu, yang mana sekarang mungkin sudah banyak berubah.  Berikut ini adalah prosedur baru untuk pegawai baru:

  • Beberapa hari sebelum berangkat, perusahaan meng email visa kerja yang harus di tunjukkan pada perusahaan penerbangan pada saat check in di Jakarta - hanya sekedar proforma sajam, karena ini kewajiban carrier tersebut untuk menghindari kemungkinan mereka harus menerbangkan pulang penumpangnya yang tidak punya visa untuk negara tujuan
  • Termasuk dalam email tersebut juga adalah e-ticket pesawat kita, yang harus di tunjukan pada saat check in pada carrier kita… inilah yang menerbangkan kita dari Jakarta ke tempat tujuan…. Ini jaman sekarang, tahun 2008 tahun 2005 saya harus menunjukkan nomor booking saya di agen penerbangan di Jakarta, untuk mendapatkan tiket ini…. sekarang kita tak harus datang ke mana-mana, tinggal di print saja dari komputer di rumah….
  • Setibanya di Doha, ada agen penjemputan lain yang bernama Al-Maha, yang mengurus semua dokumentasi dll untuk melalui costum clearance supaya kita tak perlu repot2 lagi antre dipetugas imigrasi, dan menunggu bagasi kita keluar dari pesawat di “carousel”. Al Maha akan mengantarkan tamunya menunggu di VIP Lounge sampai semua urusan beres… dan keluar dari airport.
  • Diluar airport tentu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pengangkutan dari airport ke akomodasi kita… Tak perlu khawatir, supir perusahaan sudah menunggu dengan membawa nama perusahaan… jadi pegawai baru ini tinggal meng identifikasikan dirinya pada supir tersebut.
  • Berbeda dengan pengalaman saya terdahulu, pada saat itu perusahaan belum punya tempat penampungan khusus untuk pegawainya yang baru datang, kali ini perusahaan sudah mempunyai akomodasi khusus untuk pegawainya yang berlokasi dimana-mana di Doha. Jadi pengalaman di jemput oleh limusin hotel tidak ada lagi… supir kantor akan langsung mengantarkan ke apartemen kantor.
  • Di akomodasi ini kita bisa beristirahat sebentar sebelum memulai ‘hidup baru’ di Doha dengan segala aktivitas rutinnya. Supir ini juga akan mengatakan kapan kita harus siap untuk di jemput untuk ke kantor ke esokan harinya atau sore itu juga…

Saya pikir pelayanan ini cukup mengamankan kita dari segala ke bingungan dan ke kuatiran di luar Indonesia, yang membuat kita kadang-kadang kurang percaya diri karena masalah bahasa, perilaku yang berbeda dari orang-orang yang bukan orang Indonesia sama sekali.

Next Page »