Annual Dinner
Sebenarnya saya tidak begitu mengetahui budaya sosialisasi kantor di Indonesia. Maklum selama bekerja di Indonesia yang bertahun-tahun itu acara sosialnya yang diselenggarakan oleh kantor saya yang konsultan arsitektur swasta adalah makan-makan bersama menjelang libur lebaran, atau piknik bersama keluarga selama semalam yang disertai dengan permainan dan door prize.
Ketika saya bekerja di Singapore yang Cuma sebentar itu, acara sosialisasi kantor diselenggarakan secara perorangan, artinya bukan di organisasikan oleh kantor.
Seperti juga ketika di Jakarta, acara makan-makan bersama ini selalu dilakukan segera sesudah jam kantor. Kita semua berangkat dari kantor, seadanya…. Mereka yang datang dari kantor memakai baju kantor seperti biasa. Dan mereka yang datang dari lapangan tetap memakai baju lapangannya seperti biasa. Tak ada yang istimewa, kecuali bahwa kita makan-makan di restoran yang lebih mewah dari pada warteg atau AMiGoS (agak minggir got sedikit) tempat kamu biasa makan siang.
Di negeri seberang yang lebih jauh, ternyata acara sosialisasi seperti ini juga ada. Malah menjadi “highlight” dari kehidupan sosial kantor kita yang pegawainya di Doha saja mencapai lebih dari 300 orang. Lalu apa bedanya dengan acara sosial kantor di Jakarta?
Bedanya adalah dengan budaya yang berbeda, acara ini juga diselenggarakan dengan berbeda. Kantor saya rupanya secara rutin menyelenggarakan “Company Annual Dinner”. Diselenggarakan setahun sekali sekitar bulan Februari atau Maret. Bedanya lagi adalah bahwa kita semua berangkat dari rumah masing-masing, dengan membawa pasangannya masing-masing. Bukan ‘dinner’ jomblo seperti di kantor Jakarta, yang berangkat langsung dari kantor dengan segala bau kantornya.
Di Annual Dinner ini, biasanya diselenggarakan di hotel bintang 5. semua datang dengan pasangannya dan “dress up” para wanitanya dengan baju terbaik mereka dan para lelakinya juga memakai “suite jacket”. Semua orang membicarakan akan memakai baju apa untuk Dinner ini. Terus terang saya pusing tujuh keliling, maklum tak gampang membeli baju dengan ukuran badan saya yang mungil, lepas dari bahwa itu untuk pesta atau bukan. Belum lagi desain pakaiannya adalah konsumsi perempuan Arab, yang berenda-renda dan ukuran besar.
Gaya makan-makan kantor saya yang di selenggarakan di hotel bintang 5 ini juga berbeda dengan di jakarta. Memang sama, makanan disajika secara prasmanan, tapi mungkin karena kantor saya lebih seperti kantoar “barat” daripada kantor “arab” makan minuman yang disajikan dimeja bukan hanya air putih dan coca cola, tapi juga wine.
Acara kemudian diakhiri dengan dansa, dan “disco dancing”…. Rasanya aneh melihat mereka yang sudah berumur sekitar 50-60 tahun masih juga senang untuk jojing…. but this is life as an expat….






