Masalah TKI
Saya baru saja kembali dari tanah air, seperti biasa, masalah klise yang teramati dalam perjalanan jalur Middle East – Jakarta via Singapore (terserah naik penerbangan apapun….) adalah perjalanan dengan pembantu asal Indonesia, baik dari Mid East atau dari Jakarta….
Ada banyak perasaan campur aduk mengamati mereka itu: jengkel, kesal, malu dan kasihan semua campur aduk….
Jengkel, karekan kelakuan mereka yang senangnya bergerombol dan punya kecenderungan ribut dan sulit diberi tahu…, Jengkel dan kesal karena masalah klasikm, yaitu tidak mendengarkan dan tanggap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, hanya karena kesibukan mereka satu sama lain yang menjadikan mereka sendiri tidak taat aturan setempat yang berkalu. Malu karena mereka keributan yang ditimbulkan oleh mereka, layaknya mereka itu tak beradab… belum lagi. Kasihan, karena mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi pada diri mereka setibanya di tanah air…
Bayangkan, perjalanan jauh mereka yang di lampaui entah berapa hari di perjalanan, sebelum tiba di Jakarta… untuk kemudian di peras oleh petugas imigrasi di Bandara…. belum lagi harus menunggu berjam-jam di terminal khusus kedatangan untuk pada TKI yang pulang pertama kali sesudah lebih dari satu tahun meninggalkan keluarganya…. Jangan lupa, perjalanan mereka tidak berakhir di Jakarta, tetapi masih berlanjut dengan penerbangan lokal ke Jawa Tengah/Timur, Lampung dll.
Cerita diatas adalah cerita para TKW yang pulang ke tanah air. Cerita keberangkatan TKI lain lagi…. Foto dibawah ini adalah bagaimana mereka antre untuk check-in dengan pesawat yang digunakannya…. Budaya yang harus antre bergiliran rupanya belum benar-benar dimengerti oleh mereka… akibatnya untuk antri saya masih harus di beritahu oleh “chaperon” mereka ikut di jalur antrean yang mana…
Gambar di atas menunjukkan bagai mana mereka antre untuk check-in…. pertanyaannya, beginikan posisi antre? dengan ber-jongkok? masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak saya, dan saya tak habis pikir…. Padahal ini baru langkah pertama sebelum benar-benar ada di Luar Indonesia….
Di dalam pesawat ceritanya lain lagi. Memang mereka kecenderungannya jinak… tak berani berbuat macam-macam…. atau begitulah kira-kira pada saat mereka duduk di dalam pesawat…. Cerita jadi lain pada saat mereka mulai menggunakan kamar kecil…. belum lagi apabila mereka mengalami mabuk udara…. (muntah saja di lantai pesawat, padahal di sediakan kantung untuk menanggulangi ke “jorokan” itu)
Rasanya harus ada yang mengajarkan mereka bertata krama di “dunia internasional”. Dari mulai Check-in di Bandara Internasional Indonesia, sampai dengan tiba “di ujung sana”: didalam pesawat terbang, transit di bandara negara asing, dll.
Seperti inikan budaya orang Indonesia yang “sangat berbeda” dengan peradaban dunia yang luar? Atau beginikah sistem pendidikan Indonesia… jauh tertinggal dengan peradaban dunia yang lain? atau kita memang tidak perlu mengenal peradaban dunia yang lain… tetap saja berlaku “tradisional,” karena untuk menyatukan banyak tradisi lokal saja sudah pusing apa lagi mengenalkan tata krama asing…. dan membiarkan orang Indonesia jago kandang…
Menurut pendapat saya, meskipun mereka itu “cuma jadi pembantu” dinegeri orang… mereka tetap melakukan perjalanan internasional, baik dari kampung mereka ke negeri seberang atau dalam rangka tugas mereka di negeri seberang, karena majikan mereka mungkin saja membawa mereka dalam perjalanan luarnegeri mereka…. Dan apabila mereka bertata krama dan berperilaku yang “standard internasional” maka kemungkinan mereka di “abuse” oleh majikannya pun menjadi berkurang….







